Makalah “Buku Pedoman Inovasi Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga untuk Peningkatan Ketahanan Pangan (Parut Kepang)”

Berikut ini merupakan hasil dari  Makalah “Buku Pedoman Inovasi Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga untuk Peningkatan Ketahanan Pangan (Parut Kepang)”
Link Download Makalah : Download Makalah

 

A. LATAR BELAKANG

  1. PENDAHULUAN

Secara umum, manusia menganggap sampah adalah barang sisa dari aktifitas manusia dan keberadaannya mengganggu estetika lingkungan. (Mohamad Satori, Reni Amarani, Dewi Shofi, 2010:151)  Sampah seringkali dipandang sebagai sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Sampah dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak mempunyai nilai.

Meningkatnya nilai konsumsi masyarakat modern dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, menjadi penyumbang dari semakin banyaknya sampah yang harus dibuang. Sampah rumah tangga tidak dapat dianggap kecil dalam kapasitas penyumbang sampah bagi lingkungan.

Pertumbuhan manusia yang setiap tahun meningkat, tidak luput dari penyumbang sampah terbesar di berbagai daerah. Hal itu dipengaruhi oleh lingkungan dan karakter masyarakat yang menjadi problem penting dalam memahami dan mengimplementasikan penanganan sampah bagi suatu daerah. Bertambahnya sampah sejalan dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur dan meningkatnya pertumbuhan manusia tanpa diimbangi dengan pola penanganan dan pengelolaan sampah dengan sarana dan prasaran yang memadai. (F.L. Sudiran, 2005:17).

Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 memberikan penjelasan bahwa sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Berdasarkan sifat fisik dan kimianya sampah dapat digolongkan menjadi:

1) sampah ada yang mudah membusuk terdiri atas sampah organik seperti sisa sayuran, sisa daging, daun dan lain-lain;

2) sampah yang tidak mudah membusuk seperti plastik, kertas, karet, logam, sisa bahan bangunan dan lain-lain;

3) sampah yang berupa debu/abu; dan

4) sampah yang berbahaya (B3) bagi kesehatan, seperti sampah berasal dari industri dan rumah sakit yang mengandung zat-zat kimia dan agen penyakit yang berbahaya. (I Wayan Suwarna, 2008:1).

Kegiatan pembuangan sampah adalah kegiatan yang tidak mempunyai titik akhir, sehingga diperlukan penanganan dan pengelolaan secara konkrit dan sistematis. (Lilis Sulistyorini, 2005:78). Hal itu karena dampak yang ditimbulkan oleh sampah menjadi permasalahan yang sangat berpengaruh terhadap lingkungan, kesehatan dan kehidupan social masyarakat. Propaganda bencana seringkali mengingatkan bagi kehidupan masyarakat. Terutama bencana banjir setiap tahun menghiasi “dinding” masyarakat perkotaan.

Diperlukan sebuah penanganan strategis terhadap pengelolaan sampah. Pemerintah sudah melalukan berbagai tindakan terhadap penanganan dan  pengelolaan sampah, hanya saja masih belum  menyentuh level penanganan paling bawah, yaitu sampah rumah tangga.

Permasalahan yang dihadapi di masyarakat Wonogiri khususnya masyarakat Purwantoro adalah belum sadarnya masyarakat tentang  pentingnya pengelolaan sampah seperti pemilahan sampah, pemanfaatan  sampah agar sampah dihasilkannya tidak menjadi ancaman pencemaran lingkungan bahkan bisa menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kehidupan masayarakat.. Sampai saat ini  paradigma masyarakat tentang sampah masih menjadi bagian yang tidak penting, dan hanya dibuang begitu saja atau di bakar

Merujuk pada beberapa permasalahan yang berhubungan dengan bagaimana cara pengelolaan sampah rumah tangga, maka Puskesmas Purwantoro I  mencoba menginovasikan beberapa model pengelolaan sampah rumah tangga yang baik dan benar.

Dari uraian di atas dapat dijadikan sebagai rumusan permasalahan adalah bagaimana cara mengelola sampah rumah tangga yang baik dan benar. Sehingga bisa menjadi sesuatu yang bernilai guna bagi masyarakat.  Mengubah paradigma masyarakat tentang pengelolaan sampah yang benar butuh proses yang panjang maka kami  membagi 2 tahap inovasi yaitu jangka pendek dan jangka panjang.

Pada tahap jangka pendek target yang ingin dicapai adalah

  1. Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar, sehingga masyarakat memahami pentingnya menjaga lingkungan dan memanfaatkan sampah keluarga yang hampir setiap hari ada, yaitu dengan cara memberikan pemahaman secara konseptual melalui pemilihan sampah rumah tangga organik maupun non-organik.
  2. Pemanfaatan sampah organik sebagai pupuk organik cair ( POC ) dengan peralatan sederhana yang bisa di aplikasikan oleh semua masyarakat. Alasan kami pendekatan masyarakat melalui pembuatan pupuk organik cair (POC) ke masyarakat karena sebagian masyarakat wonogiri khususnya masyarakat Purwantoro berprofesi sebagai petani. Pupuk merupakan bahan yang di butuhkan masyarakat dalam bercocok tanam.

Dalam pembuatan pupuk cair organik (POC) ini kami menggunakan alat DEKOMPOSTER SEDERHANA. Dekomposter ini kami buat dari barang- barang bekas atau barang yang sederhana yang mudah di dapat sehingga masyarakat tidak merasa keberatan dalam pembuatan dekomposter sederhana.

Sedangkan pada target jangka panjangnya diharapkan :

  1. Adanya bank sampah yang terkelola dengan baik sehingga pengelolaan sampah di masyarakat bukan hanya sampah organik saja namun juga bisa mengelola sampah non organik
  2. Pengelolaan sampah lewat bank sampah bisa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kebersihan. Lingkungan.
  3. Sebagai ikon baru bagi Pemerintah Daerah Wonogiri dalam penanganan dan pengelolaan sampah menjadi pupuk cair organik ( POC ) dan kompos serta menjadi percontohan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai lingkungan bebas sampah dengan menjadikan sentra pupuk cair organik ( POC ) dan kompos

 

B. TUJUAN DAN MANFAAT

TUJUAN

Mengelola sampah rumah tangga dengan cara yang baik dan benar agar tidak menjadi ancaman bagi lingkungan dan manusia

 

MANFAAT

  1. Memudahkan masyarakat mendapatkan pupuk untuk tanaman di sawah atau di halamannya dengan menggunakan pupuk organik cair ( POC )
  2. Mengurangi Pembelian pupuk kimia sekitar 20 – 30 persen
  3. Meningkatkan pendapatan masyarakat dengan Penjualan POC
  4. Menjadikan kegiatan yang bermanfaat untuk ibu- ibu rumah tangga
  5. Mengaktifkan ibu- ibu untuk membuat lumbung makanan di halaman rumah ( menananm sayur, buah dan memelihara ternak )
  6. Sebagai pendekatan edukatif ibu – ibu untuk menyediakan gizi keluarga dengan cara yang lebih murah dan mudah.

 

PELAKSANAAN INOVASI

 

Pelaksanaan inovasi PARUT KEPANG  ( pemanfaatan sampah rumah tangga untuk peningkatan ketahanan pangan ) dilakukan sebagai berikut :

  1. SOSIALISASI DAN KOORDINASI TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA

Pelaksanaan program sosialisasi pengelolaan sampah rumah tangga  rencana akan kami  lakukan di setiap desa.di kecamatan Purwantoro dengan melibatkan stekholder yang ada, yaitu kader kesehatan dan bidan desa. Kader kesehatan sebagai ujung tombak di depan diharapkan mampu untuk membina dan menjadi tauladan masyarakat di bidang kesehatan dan pembangunan masyrakat di desa, terutama kaum ibu Namun sampai saat ini kami masih bisa melaksanakan kegiatan di 3 desa yaitu desa Sendang, desa Ploso, dan desa Gondang. Hal ini disebabkan adanya pandemi covit 19.

. Mengajak masyarakat melakukan   perubahan pemikiran dan perilaku itu sangatlah sulit  akan lebih mudah bila ada contoh keberhasilannya terlebih dahulu.Dari pemikiran inilah kami berusaha untuk lebih fokus menjadikan sebuah desa sebagai pilot project kami, maka kami memilih desa sendang untuk di jadikan desa percontohan untuk pengelolaan sampah rumah tangga

Untuk program pengelolaan sampah rumah tangga ini sasaran kami adalah ibu- ibu rumah tangga karena ibu rumah tanggalah yang lebih banyak bersentuhan dengan sampah yang dihasilkan dari rumahnya. Ibu rumah tangga lebih telaten untuk mengelola sampah di rumah tangganya sendiri karena memang salah satu tugas dari seorang ibu adalah sebagai tata laksana rumah tangga. Langkah pertama yang harus dilakukan dalampengelolaan sampah rumah tangga adalah pemilahan sampah. Memilah sampah organik dan an organik yang dihasilkan di rumah. Untuk memudahkan pemilahan sebaiknya setiap rumah menyediakan minimal @ tempat sampah yaitu tempat sampah organik dan tempat sampah an organik.

Keberhasilan program pengelolaan sampah rumah tangga ini, terletak pada dukungan peran dari sektor terkait seperti  TPKK desa, tokoh masyarakat dan pamong desa. Tanpa adanya kerjasama antara berbagai pihak sulit kiranya program akan terlaksana dengan baik.

Tempat Sampah Organik
Tempat Sampah Anorganik
  1. PELATIHAN PEMBUATAN DEKOMPOSTER SEDERHANA

Kegiatan kami setelah sosialisasi ke kader kesehatan dan Koordinasi dengan pihak terkait maka langkah kami selanjutnya adalah pelatihan pembuatan dekomposter sederhana. Disini Kami berusaha untuk membuat sebuah alat yang dinakan alat dekomposter sampah sederhana. Alasan kami untuk membuat alat dekomposter sederhana adalah :

  1. Supaya masyarakat lebih cepat merasakan manfaat dari pengelolaan sampah

( manfaatkan pupuk cair organik / POC dan kompos )

  1. Membuat alat yang bisa diaplikasikan oleh semua masyarakat
  2. Alat dibuat dari bahan yang mudah di dapat dan murah harganya ( pemanfaatan barang bekas / sampah an organik )
  3. Cara pengoperasikan alat dekomposter sangat  mudah

Pelatihan ini kami lakukan pada ibu- ibu kader kesehatan, bidan desa dan pamong desa.  Kader kesehatan sangat antusias mengikuti pelatihan. Cara membuat Dekomposter sederhana adalah :

  1. Menyiapkan 2 ember dengan ukuran yang berbeda ( bisa ember bekas )
  2. Ember pertama di lubangi bagian bawahnya. Ember ini yang nantinya akan di gunakan untuk tempat penampungan sampah organik. Ember ini harus ada tutupnya supaya terjadi proses fermentasi sehingga ampahakan cepat menjadi kompos.
  3. Ember kedua di beri kran air atau tanpa kran. Ember kedua ini yang di jadikan sebagai tempat Pupuk organik cair atau POC
  4. Kedua ember di tumpuk sedemikian rupa. Ember yang lebih besar di letakkan di atas sebagai tempat sampah

Cara pembuatan Pupuk organik cair ( POC )

  1. Siapkan sampah organik dari rumah tangga
  2. Siapkan POC yang diencerkan dengan air. Takrannya 2 tutup kecil POC di encerkan dengan 500 ml air
  3. Masukkan sampah organik pada alat dekomposter sederhana
  4. Siram sampah dengan POC yang telah diencerkan tadi
  5. Tutup kembali dekomposter
  6. POC akan terlihat di ember ke 2 / di buka krannya
  7. POC di jemur dibawah sinar matahari untuk proses fermentasi minimal 2 minggu
  8. POC siap untuk di simpan atau di aplikasikan ke tanaman sebagai pupuk
Alat dekomposter tanpa kran
Alat dekomposter dengan kran air
Hasil POC yang mengalir dari kran

Cara pemakaian POC pada tanaman ( bisa tanaman di pekarangan rumah atau di sawah )

  1. 5 tutup kecil POC di encerkan dengan 1 ltr air
  2. Siramkan pada tanaman atau masukkan dalam mesin penyemprot tanaman
  3. POC siap di aplikasikan ke tanaman
  4. Penyiraman dengan POC bisa seminggu 2 -3 kali

 

  1. MONITORING DAN EVALUASI

            Memonitoring program pengelolaan sampah organik atau PARUT KEPANG ini kami lakukan setiap bulan pada pertemuan kader di setiap desa. Hal ini kami lakukan untuk memantau perkembangan dari inovasi sekaligus sebagai media untuk melakukan koordinasi untuk menentukan pelaksanaan kegiatanberikutnya.

Untuk mensosialisasikan program pengelolaan sampah organik rumah tangga untuk pembuatan pupuk organik maka kami menugaskan ibu-ibu kader yang telah mengikuti pelatihan untuk mengedukasi ke lingkungan sekitarnya.   Ternyata dengan menerapkan metode pembelajaran seperti ini masyarakat mulai tertarik dan mulai mengikuti program pengelolaan sampah rumah tangganya. Masyarakat mulai banyak yang memanfaatkan pekarangan rumah untuk tanaman sayur dan buah. Selain itu pupuk organiuk cair ( POC ) ini juga di gunakan masyarakat untuk menyemprot tanaman padi, cabe atau jagung di sawah mereka. Dengan adanya pupuk organik cair ini masyarakat sangat terbantu karena mengurangin pembelian pupuk kimia sebesar 20-30 persen.

Pupuk organik cair yang telah di hasilkan oleh ibu- ibu kader kesehatan  ini ternyata mulai di minati juga oleh masyarakat sekitar desa. Banyak permintaan POC dari masyarakat lain desa. Ibu-ibu kader desa Sendang mulai menjual pupuk organik cairnya seharga !5.000 untuk POC botol besar dan 10.000 untuk POC  botol kecil.  Dari usaha pengolahan sampah organik rumah tangga ini banyak menimbulkan perubahan yang positif di masyarakat, masyarakat lebih senang untuk bercocok tanam memanfaatkan lahan pekarangan rumah dan lebih kreatif.

 

 

NB: “Format dalam website dimungkinkan tidak sama dengan format yang ada pada file download”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *